Amalan Doa Pengikat Hati Laki-Laki Atau Perempuan Dari Tanah Pasundan

Doa pengikat hati ini diterima dari seorang guru yang menguasai ilmu buhun atau ilmu tradisional tanah Pasundan. Namun, perlu diketahui, metode ilmu ini memiliki kelemahan, antara lain sebagai berikut. Tidak berfungsi manakala diperuntukkan bagi pasangan suami istri (atau calon suami istri) yang tidak diketahui.

Dalam prosesi ini, hari kelahirannya berdasarkan kalender Jawa (weton) dan orang yang dituju tidak boleh tidak memiliki rambut (gundul). Dalam prosesi magisnya, ada bagian menghancurkan rambut kedua pasangan itu yang sebelumnya harus diikat.

Bagaimana cara mengikat hati berdasarkan ilmu buhun ini? Pertama, Anda harus memiliki rambut dua orang yang hendak disatukan. Kedua, Anda harus pula mengetahui hari kelahiran orang yang dituju. Setelah itu, jumlahkan hari kelahiran itu dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

HARI
• Ahad = 5
• Senin = 4
• Selasa = 3
• Rabu = 7
• Kamis = 8
• Jumat = 6
• Sabtu = 9

PASARAN
• Kliwon = 8
• Legi = 5
• Pahing = 9
• Pon = 7
• Wage = 4

Sebagai contoh, Anda ingin menyatukan hati dua orang yang bernama Siti (perempuan) dan Sujarwo (laki-laki). Siti lahir pada Jumat Wage, berarti : 6 + 4 = 10, sedangkan Sujarwo lahir pada hari Kamis Legi. Berarti: 8 + 5 = 13. Lalu, hari kelahiran keduanya dijumlah, 10 + 13 = 23.

tasbih-karomah

Cara Mengamalkan Doa Pengikat Hati

Setelah mengetahui jumlah hari kelahiran kedua pasangan itu, tengah malam, lakukanlah salat hajat 12 (dua belas) rakaat dan salam setelah setiap 2 rakaat. Lanjutkan dengan hadrah (membaca Surah Al-Fatihah) yang masing masing ditujukan kepada para leluhur, para nabi, wali, dan dua nama yang hendak diikatkan hatinya.

Setelah mengirim doa, lanjutkan dengan mengikat kedua rambut orang dikehendaki. Saat mengikat itu, konsentrasi harus terpusat seolah-olah sedang mengikat hati kedua orang yang namanya Anda sebut. Setelah diikat, bungkus dengan mori putih yang masih baru, seperti membungkus mayat, lengkap dengan memberikan tiga kali pengikat dua pada bagian ujung dan bagian tengah. Selanjutnya, letakkan bungkusan itu di hadapan Anda dan baca mantra sebagai berikut:

Bismillahirrahmaanirrahiim. Niat abdi ngahijiken antawis batin si ( ………nama orang.. …….. .) sareng si ( … …nama orang. . . ….. .) Allahu Akbar3x.

Mantra itu dibaca sebanyak 77 kali, dilanjutkan dengan membaca “mantra kunci” sebanyak jumlah dari hari kelahiran (weton) kedua manusia itu. Setelah ritual selesai, berikan rambut yang diikat dalam mori putih itu kepada orang yang memesan.

Sarankan untuk ditanam di sekitar rumah orang yang dikehendaki akan diikat hatinya. Biasanya, setelah bungkusan itu ditanam di dalam tanah, akan muncul sedikit gangguan berupa bayangan bayangan dari makhluk gaib (khadam).

Walau tidak mengganggu, si pemesan “bungkusan” itu harus diberi tahu agar nanti tidak kaget. Penanaman rambut yang dibungkus itu cukup dilakukan selama satu tahun saja. Setelah itu, bungkusan itu harus dibongkar dan dibuang. Agar tidak hilang atau mudah ditemukan, sebaiknya tanam di dalam pot bunga.

Ilmu ini terikat dengan jumlah hitungan hari kelahiran berdasarkan kalender Jawa. Menurut para guru, jangan sampai membuat khodam (makhluk gaib) itu bingung. lbarat tukang pos, khadam itu akan cepat mendatangi orang yang alamatnya lengkap. Jika “alamat” kurang lengkap, sering kali terjadi salah sasaran pada nama yang sarna.

Dalam kasus Sujarwo dan Siti, dalam satu daerah, bisa saja ada beberapa orang yang memiliki nama itu. Oleh karena itu, perlu diketahui weton-nya karena khadam lokal (asli Jawa/lndonesia) bisa tahu alamat seseorang berdasarkan weton atau hari kelahiran seseorang.

Ilmu pengikat hati ini mutIak menggunakan sarana berupa rambut. Jika rambut salah satunya (laki-laki, pada umumnya) sangat pendek, atau bahkan yang gundul, sebaiknya gunakan konsep ilmu yang lain saja.